KONFLIK BELAHAN JIWA
Hal inilah yang kadang menjadi pertentangan antara saya dan
suami sebagai orang tua, terutama dalam menerapkan "Reward and Punishment". Terlalu cepat merespon rengekan si kecil dibanding si
sulung, menuntut kakak lebih mandiri dibanding adik, ataupun cepat menuduh
si tengah diantara yang lain. Ayah lebih sayang anak perempuan, ibu lebih tegas
pada yang lelaki, selalu terjadi hampir setiap hari.Namun, dalam kenyataannya, menerapkan semua teori yang saya punya tidak semudah membacanya. Hal inilah yang sempat menimbulkan konflik antara saya dan suami di awal-awal kami menikah dan dikaruniai seorang anak. Setiap respon suami kepada anak yang dianggapnya biasa, bagi saya tidak biasa. Yang baginya wajar menurut saya tidak wajar, sampai yang baginya lucu menurut saya aneh. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pola asuh pada anak. Dan kami baru menyadari konflik ini disaat anak kedua hadir. Ternyata untuk mewujudkan pola asuh yang baik, harus disepakati oleh kedua orangtua bahkan seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengasuhan anak-anak kita. Juga dalam hal pemberian reward dan punishment pada anak-anak.
Kesepakatan berupa apa, kapan, bagaimana reward dan punishment diberikan kepada anak menurut saya harus menjadi komitmen bersama agar tidak menjadi konflik. Saya dan suami memiliki kesepakatan dan Alhamdulillah sampai anak ketiga lahir kami berusaha untuk disiplin pada komitmen kami.
Dalam memberikan punishment, kadang saya tidak terima jika suami memarahi anak-anak, rasanya kesal dan tersinggung, tapi saya hanya diam saat suami sedang marah pada anak-anak, hal ini saya lakukan semata-mata meghormati dan menunjukkan pada anak-anak bahwa saya juga marah pada mereka. Setelah kemarahan suami hilang, baru saya jelaskan pada anak-anak, mengapa tadi ayahnya marah. dan menghukum mereka.
Juga dalam memberikan penghargaan, biasanya Suami kurang peka terhadap kebaikan sederhana yang dilakukan anak, sehingga lupa memberikan reward, maka saya berusaha untuk menegur disaat anak-anak terlelap. sehingga keesokan harinya, suami langsung meminta maaf pada anak-anak, hal ini bagi saya juga merupakan reward yang layak didapatkan mereka.
Maka saya dan suami, sepakat bahwa reward kepada anak tidak selalu materi, tapi dukungan melalui kata-kata dan sikap pada setiap aktivitas mereka adalah reward yang tak ternilai harganya. Sedangkan kata-kata dan bentakan yang menyinggung perasaan dapat menjadi punisment yang mungkin akan menjadi trauma dan konflik berkepanjangan, untuk itu kami sepakat berusaha meminimalisir ucapan kasar kepada anak, terutama ketika marah.
Itulah yang saya terapkan dalam memberikan reward and punisment pada anak-anak.
Dalam memberikan punishment, kadang saya tidak terima jika suami memarahi anak-anak, rasanya kesal dan tersinggung, tapi saya hanya diam saat suami sedang marah pada anak-anak, hal ini saya lakukan semata-mata meghormati dan menunjukkan pada anak-anak bahwa saya juga marah pada mereka. Setelah kemarahan suami hilang, baru saya jelaskan pada anak-anak, mengapa tadi ayahnya marah. dan menghukum mereka.
Juga dalam memberikan penghargaan, biasanya Suami kurang peka terhadap kebaikan sederhana yang dilakukan anak, sehingga lupa memberikan reward, maka saya berusaha untuk menegur disaat anak-anak terlelap. sehingga keesokan harinya, suami langsung meminta maaf pada anak-anak, hal ini bagi saya juga merupakan reward yang layak didapatkan mereka.
Maka saya dan suami, sepakat bahwa reward kepada anak tidak selalu materi, tapi dukungan melalui kata-kata dan sikap pada setiap aktivitas mereka adalah reward yang tak ternilai harganya. Sedangkan kata-kata dan bentakan yang menyinggung perasaan dapat menjadi punisment yang mungkin akan menjadi trauma dan konflik berkepanjangan, untuk itu kami sepakat berusaha meminimalisir ucapan kasar kepada anak, terutama ketika marah.
Itulah yang saya terapkan dalam memberikan reward and punisment pada anak-anak.
#SatuHariSatuKaryaIIDN

Comments
Post a Comment