JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3

 "COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK"



Model Jurnal Refleksi : 4C (Connection, Challenge, Concept, Change)

Sumber Bacaan : Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik, Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Tahun 2023.

CGP Angkatan 7     : Tri Nirmala, S.Pd - SMPN 15 Tangerang
Pengajar Praktik     : Lolita, M.Pd
Fasilitator              : Heni Inawati I. P, M.Pd

CONNECTION

    Modul 2.3 Coaching untuk supervisi akademik, adalah materi yang fokus pada pelaksanaan supervisi akademik dengan menggunakan paradigma coaching. Peran guru sebagai pemimpin pembelajaran yang menggerakkan komunitas baik di sekolah maupun lingkungan sekolah harus mampu berkolaborasi dengan teman sejawat dan membimbing teman sejawat di sekolah maupun mewujudkan kepemimpinan murid. 
    Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan yang membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya dalam mengelola proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kompetensi pedagogis dan profesionalnya yang bermuara pada peningkatan mutu lulusan. Pada praktiknya, supervisi akademik di sekolah selama ini lebih terfokus pada penilaian pedagogis ddan profesional guru dalam proses pembelajaran di kelas. Melalui materi coaching untuk supervisi akademik, membentuk paradigma baru bahwa supervisi akademik dilakukan untuk menggali potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh guru untuk dikembangkan dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas selanjutnya. 
    Modul 2.3 ini dipelajari melalui alur MERDEKA, dengan mengeksplorasi konsep secara mandiri, diskusi dengan fasilitator dan teman-teman CGP lainnya, serta elaborasi konsep oleh instruktur. Kegiatan ini memberikan pemahaman baru dan merubah mindset tentang supervisi yang selama ini saya hadapi. Dengan mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa supervisi melalui teknik coaching adalah hal yang menarik dan menyenangkan. Dan dapat dijadikan kolaborasi dengan teman sejawat untuk menyelesaikan problema dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. 
    Materi di modul 2.3 ini juga berkaitan dengan peran saya sebagai pemimpin pembelajarandan kolaborasi dengan teman sejawat, dimana supervisi melalui paradigma coaching melalui alur TIRTA membantu rekan sejawat dalam menemukan solusi dari dirinya sendiri dalam menyelesaikan persoalan pedagogis dan masalah lainnya di kelas. Selain itu peran saya untuk mewujudkan kepemimpinan murid melalui proses coaching ini dapat memberikan kesadaran dan membangkitkan potensi yang ada dalam diri murid. Sebagai seorang guru saya berperan menuntun murid-murid saya sesuai kodratnya, sebagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara. Coaching dapat membantu saya dan teman sejawat dalam menemukan solusi dalam suasana kolaborasi bersama yang fleksibel, akrab, dan bermakna. 



 







    

CHALLENGE 

      Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berebntuk kemitraan (coachee) untuk memaksimalkan potensi atau kinerjanya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Coaching memiliki tujuan dan prinsip kearah memberdayakan, membantu seseorang bukan untuk mengajarinya. Itulah mengapa coaching berbeda dengan bentuk-bentuk pengembangan diri yang lain seperti mentoring, konseling ataupun training.
        Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran merekadi kelas. Supervisi akademik secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada murid. Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama yang menjadi landasan kita menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan potensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu. Seorang supervisor idealnya harus memahami makna dari tujuan pelaksanaan supervisi akademik sekolah. 
        Dari beberapa konsep di atas, berbeda dengan konsep dan perilaku saya sebagai guru selama ini. Saya berasumsi bahwa supervisi akademik merupakan kegiatan penilaian terhadap kinerja guru, terutama saat saya di supervisi. Modul 2.3 memberikan pencerahan bagi saya bahwa supervisor yang dilaksanakan dengan paradigma coaching serta menggunakan alur TIRTA menjadikan supervisi akademik sebagai suatu bentuk yang membangun kemitraan dalam pengembangan diri untuk pembelajaran yang lebih baik. Materi coaching untuk supervisi akademik sangat jauh berbeda dengan yang saya alami selama ini di sekolah.
        Supervisi yang saya alami selami ini hanya fokus padaobservasi di dalam kelas dengan indikator wajib yang telah di dalam instrumen penilaian supervisi. Belajar dari modul 2.3 bajwa supervisi akademik dilakukan dengan paradigma coaching ada tiga tahapan yaitu pra observasi, observasi dan pasca obsevasi. Supervisi dalam praktiknya jarang melakukan feedback kepada guru yang disupervisi, mau tidak mau sesuai dengan jadwal maka akan diadakan supervisi di dalam kelas dan selalu merujuk kepada kekurangan dan kelemahan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tahapan tiga supervisi akademik dilakukan degan paradigma coaching tentunya akan merubah pemikiran guru dan menghasilkan pengembangan diri guru ke arah yang lebih baik dalam melakukan proses pembelajaran.  

CONCEPT

        Coaching beebeda denagn bentuk-bentuk pengembangan diri lainnya, karena dalam proses coaching, coach hanya menuntun, tidak ada paksaan, tidak pula mengajari atau menyuruh, hubungan coach dengan coachee adalah hubungan kemitraan. Coach membantu coachee menemukan sendiri solusi dan jalan menuju peningkatan kompetensi dirinya atau solusi dari keinginannya melalui proses menggali ide-ide kreatif dalam diri coachee. 
       
Paradigma berpikir coaching: 
  1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan.
  2. BErsikap terbuka dan ingin tahu.
  3. Memiliki kesadaran diri yang kuat.
  4. Mampu melihat peluang yang baru dan masa depan.
Prinsip coaching :
  1. Kemitraan.
  2. Proses kreatif.
  3. Memaksimalkan potensi.
Kompetensi inti coaching percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah adalah : kehadiran penuh/presence, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot, mendengarkan dengan RASA.

        Dalam menentukan tujuan dan arah percakapan, seorang coach harus bisa menentukan apakah percakapan untuk perencanaan, pemecahan masalah, untuk berefleksi, ataukah percakapan untuk kalibrasi, atau mencakup keempat tujuan tersebut. Dan terkait dengan kemampuan menciptakan alur percakapan yang efektif dan bermakna, maka dalam materi coaching yang saya pelajari, kita kenal alur TIRTA.
     TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, TAnggung jawab) merupakan alur dalam percakapan dalam setiap tahapan coaching yang harus dilakukan oleh seorang coach. 
            Dari beberapa konsep-konsep utama tentang coaching, dapat disimpulkan bahwa dengan proses coaching terutama dalam supervisi akademik, akan membantu murid-murid kita atau rekan guru menemukan potensi dirinya, menuntun mereka menjadi lebih mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya secara sadar, secara mandiri, dan penuh motivasi bukan karena paksaan atau sesuai suruhan atau perintah dari kita sebagai mitra yang membantunya mengembangkan diri. 

CHANGE

        Setelah mempelajari materi coaching ini, ternyata mampu meluruskan paradigma saya tentang bagaimana kita harusnya memandang dan memberlakukan murid dan orang lain saat kita memposisikan sebagai coach, bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam proses menuntun murid atau membantu rekan sejawat atau orang lain. Dan lebih khusus lagi, bagaimana sebuah supervisi dapat berubah dari suasana menakutkan menjadi menyenangkan, dari sebuah penilaian kinerja menjadi sebuah sharing dan diskusi pengalaman dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan pada akhirnya menjadi sebuah refleksi bermakna yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur atau pijakan bagi guru dalam melakukan pengembangan kinerja. 
        Maka jika saya diberi kepercayaan untuk mensupervisi kepada teman sejawat akan menerapkan paradigma coaching dengan alur TIRTA. Saya berusaha untuk menjadi mitra bagi teman sejawat untuk dapat menemukan potensi dan kekuatan dalam dirinya untuk melakukan perubahan dalam proses pembelajaran. 







Comments

Popular posts from this blog

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1

SUATU MASA