MANDIRI KARENA BIASA


Pengalaman adalah guru yang paling berharga, hal ini menjadi pedoman saya dalam mengajarkan kemandirian kepada tiga anak saya yang berbeda usia. Menuntut kemandirian ternyata membutuhkan figur yang dipercayai anak sebagai panutan dan contoh. Untuk anak pertama, mungkin orangtua menjadi contoh tunggal, yang diamati dan diikuti, hal ini kadang tidak disadari oleh orangtua. Mereka menuntut anak mandiri, sedangkan orangtua tidak menunjukkan kemandirian, terutama dalam hal - hal kecil. Sedang anak kedua biasanya mengikuti sikap kakaknya, bahkan bisa jadi anak kedua lebih mandiri dari kakanya.

Untuk itu dalam melatih kemandirian pada anak, diperlukan kesabaran dan konsisten dalam penerapannya. Karena saya baru bisa merasakan kemandirian sikap Si Sulung, ketika dia sudah SMP, itupun tidak dalam segala aspek, salah satunya dalam soal mengambil dan menyiapkan makan sendiri sepulang sekolah, untuk menyalakan kompor dia sudah tidak minta bantuan, bahkan bersedia memasakan telur dadar untuk adiknya jika adiknya meminta. Saya rasa hal ini dilakukan karena saya membiarkannya duduk dekat saya dan membantu memasak (walaupun dia laki-laki) bahkan sejak dia masih TK saya sudah membolehkannya membantu memotong bahan makanan (tentunya dalam pengawasan).


Berbeda lagi sikap mandiri yang ditunjukkan oleh anak tengah dan bungsu. Maka dalam melatih sikap mandiri pada anak-anak, yang saya lakukan adalah :

  • Memberikan kebebasan dalam membantu pekerjaan rumah, walaupun pada akhirnya saya yang melakukan finishing dan selalu dalam pengawasan. Misalnya untuk membuat minuman kesukaannya, mencuci peralatan bekas makan dan minumnya (walaupun menyebabkan becek dimana-mana)
  • Membiasakan dan selalu mengingatkan, untuk meletakkan setiap benda pada tempatnya (walaupun kadang diam-diam saya membantu merapihkannya), juga dalam hal ibadah tentunya.
  • Menjelaskan seperlunya, mengapa ayah selalu dilayani, sedangkan mereka harus sendiri. (Hal ini sering menjadi pertanyaan dan menimbulkan kecemburuan, jika melihat Ibu mengambilkan makan dan merapihkan koran bekas bacaan Sang Ayah)
  • Dan yang terakhir yang menurut saya memerlukan energi besar dalam melakukannya adalah Bersabar. Saya sendiri kadang terlalu cepat membantu dalam hal kecil yang dilakukan anak, seperti memakai sepatu jika waktu berangkat sekolah terlambat. 
Itulah beberapa hal yang saya lakukan dalam melatih kemandirian pada anak-anak. Walaupun sampai detik ini sikap mandirinya belum sempurna, namun saya yakin dengan ikhtiar dan diiringi do'a, pasti sikap mandiri mereka akan tumbuh, seiring dengan bertambahnya usia.





Comments

Popular posts from this blog

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.1

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3

SUATU MASA