1.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1
Kesimpulan dan Refleksi Pengetahuan dan Pengalaman baru yang di pelajari dari Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Assalamualaikum Wr Wb.
Salam dan Bahagia.
Perkenalkan, nama saya Tri Nirmala, S.Pd. Saya adalah calon guru penggerak angkatan 7 dari SMPN 15 Tangerang Kota Tangerang Propinsi Banten. Kali ini saya akan menyampaikan kesimpulan dan refleksi terhadap materi modul 1.1 tentang filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD).
Seperti yang kita ketahui, Ki Hajar Dewantara adalah Bapak Pendidikan Indonesia yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889, seorang bangsawan Jawa dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjadiningrat. Beliau adalah pendiri sekolah Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta. Sekolah ini adalah bukti sejarah betapa Ki Hajar Dewantara sangat perhatian pada perkembangan pendidikan di Indonesia. Berkat jasa beliau pula, saat ini semua warga negara Indonesia bisa menikmati pendidikan dan pengajaran.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan sebagai tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Pertukaran kebudayaan menguatkan identitas masing-masing kebudayaan. Dalam hal ini pendidikan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan. Peran pendidikan membentuk sebuah peradaban. Maka peradaban tidak dapat terhindari dari adanya perubahan. Disinilah peran pendidik untuk selalu mau berubah dan memperhatikan kodrat alam serta kodrat zaman setiap muridnya. Sehingga dapat menuntun mereka kearah perubahan untuk dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Selanjutnya saya akan merefleksi diri dengan menjawab 3 pertanyaan pemantik berikut:
- Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?
- Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
- Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
Baiklah, berikut paparan saya:
Sebelum saya mempelajari modul 1.1 mengenai Refleksi Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara saya meyakini bahwa:
- Guru adalah sumber pengetahuan, kegiatan pembelajaran berpusat pada guru dimana jawaban guru selalu benar.
- Guru harus bersikap tegas bahkan galak, agar murid lebih patuh dan disiplin terhadap setiap perintah ataupun tugas yang diberikan.
- Guru dan murid harus memiliki jarak, agar murid tidak kurang ajar dan hormat kepada guru.
Setelah mempelajari modul 1.1 tentang filosofi pendidikan KHD, saya menyadari bahwa sikap dan pemahaman saya selama ini tentang murid dan kegiatan pembelajaran di kelas kurang tepat.
Prinsip pendidikan KHD yang mengibaratkan bahwa murid sebagai tanaman guru adalah petani yang merawat dan memperbaiki kondisi tanah sehingga tanaman dapat tumbuh subur. Petani tidak bisa mengubah tanaman yang ditanam, namun bisa memperbaiki mutu tanaman menjadi lebih baik dengan caranya merawat dan memelihara tanaman itu.
Demikian juga dengan guru, jika selama ini saya beranggapan bahwa dengan wajah galak dan paksaan dapat mendisiplinkan murid, ternyata kedisiplinan itu tidak berlangsung lama. Murid hanya disiplin saat ada guru, murid hanya takut jika ada guru, jadi hanya bersifat sementara bukan karena kesadaran mereka melakukan kedisplinan. Saat guru menjawab pertanyaan murid pun seharusnya memberi kesempatan murid lain untuk menjawabnya, sehingga proses berfikir dan bernalar kritis para murid juga terbangun, guru harus mau mengakui jika belum mengetahui atau tidak tahu jawaban yang tepat.
Dalam keseharian saya juga mulai merasakan bahwa dengan membangun jarak antara murid dan guru, justru membuat jurang pemisah yang dalam. Guru sulit memahami kondisi murid, murid takut untuk jujur dan enggan mencurahkan perasaannya kepada guru. Hal ini berdampak dalam kegiatan pembelajaran di kelas, suasana kelas menjadi kaku, murid bagai robot.
Kodrat alam yang di miliki anak yaitu kemampuan atau potensi yang di miliki anak sejak lahir, hanya saja masih seperti garis samar, tugas seorang guru adalah menebalkan garis samar tersebut, garis atau kemampuan yang di miliki anak yang semula belum baik maka dituntun untuk menjadi baik dan yang sudah baik dituntun menjali lebih baik lagi. Itulah seorang guru sebagai among yang menuntun anak untuk membangun pengetahuan dan budi pekerti, agar mereka memerdekakan diri sendiri dan orang lain. Seorang pendidik dan seluruh warga sekolah harus menanamkan nilai-nilai karakter budi pekerti peserta didik sehingga anak-anak bisa menyikapi kehidupan di masa mendatang. Pendidik juga harus menghargai keragaman, bahwasanya setiap anak mempunyai sifat unik yang artinya mereka mempunyai kemapuan yang berbeda-beda antar satu dengan yang lain. Tentunya karakteritik anak yang berbeda-beda tersebut tidaklah sama penangananya.
Untuk itu, guna menyelaraskan pemikiran KHD saya akan menerapkan beberapa perubahan dan akan saya coba terapkan di kelas diantaranya,
- Melakukan pendekatan persuasif kepada murid dengan berdialog dan berdiskusi bersama terutama dalam menentukan kesepakatan dalam pembelajaran di kelas. Mencontohkan perilaku baik sesuai dengan 3 semboyan di atas. Guru dapat memberikan suri tauladan yang baik, membangkitkan atau menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dan semangat.
- Saya akan memberi kebebasan pada anak untuk memilih kegiatan dalam belajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak, saya tidak akan memaksa anak untuk mengerjakan suatu kegiatan sampai selesai dan baru bisa menilainya, karena kemapuan anak bisa di lihat dari prosesnya bukan hasilnya.
- Kegiatan pembelajaran yang saya lakukan lebih banyak mendorong anak untuk berfikir kritis, kreatif dengan membangun semangat dan memberi kalimat-kalimat pemantik, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada anak.
- Perkataan-perkataan yang saya berikan pada anak lebih banyak yang membangun semangat tidak mendoktrin dan menghukumi anak.Saya akan lebih membangun tanggung jawab pada anak untuk bisa bertanggung jawab apa yang menjadi kewajibanya.
- Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, inovatif saya menyiapkan kegiatan pembelajaran yang beragam , melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas agar tercipta suasana baru dan bisa membangun semangat belajar anak, serta bisa lebih mengenal lingkungan sekitar.
Pada akhirnya kesadaran saya terpatri bahwa guru adalah penuntun maka sebagai guru saya hanya menuntun dan tidak menuntut. Selain menuntun mengembangkan potensi atau keahlian yang di miliki anak, saya juga berusaha menuntun sikap perilaku anak, agar anak- anak mempunyai kepribadian yang baik bekal untuk hidup di masyarakat, bisa merdeka lahir dan batin, serta dapat memerdekakan diri sendiri dan orang lain.
Demikianlah kesimpulan dan refleksi yang dapat saya berikan.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Terima kasih.

.jpeg)

Inspiring🧡🧡🧡
ReplyDelete